Global Peace and Interfaith Harmony melalui Kasih Sayang Ibu

Putu Sripuji Astuti W | Aktivis Indonesian Women Association for Global Peace.

http://theglobejournal.com/opini/global-peace-and-interfaith-harmony-melalui-kasih-sayang-ibu/index.php



Memasuki akhir bulan Desember sebagian besar dari kita tentu mengingat sebuah hari yg special bagi orang yang kita cintai, Ibu yang melahirkan kita dan merawat dengan penuh kasih sayang. Sebuah hari sebagai reminder atau yang tentunya mengingatkan kembali 365 hari lainnya sepanjang tahun untuk menyadari setiap saat kasih ibu yang kita semua tahu tentu sepanjang masa. Ya ibu kita, entah kita menyebutnya dengan berbagai nama, Mam, mami, ibu, emak, mother dan lain-lain.

Secara etimologis ibu berasal dari bahasa jawa kuno “arebu” yang berarti puteri, perempuan yang berhati lembut. Sedangkan mother akar kata dalam bahasa Sanskrit  adalah matter-matta, ma, atau ilahi. Sifat feminine dari ilahi yg mewujud dalam diri seorang ibu.  Dia melahirkan atau mencipta, memelihara dan menanamkan nilai-nilai kebajikan dalam diri seorang anak.  Seorang ibu membimbing anak dan keluarganya bukan hanya dalam pendidikan akademis semata namun mengantarkan mereka pada kesadaran akan jati diri mereka, kesadaran yg mereka dapat dari penanaman nilai-nilai universal yg kita warisi dari leluhur kita di wilayah Nusantara.

Bila kita melihat kembali tinggalan-tinggalan purbakala wilayah peradaban kita tidak lepas dari simbol-simbol sifat feminine ini. Dimana sifat feminine dipuja dan dijadikan ideal implementasi dalam kehidupan. Perempuan atau ibu identik dengan kasih sayang dan jiwa feminine yang membuat kehidupan bertumbuh. Dalam jiwa seorang ibu terdapat sejuta makna dalam kehidupan dan peradaban manusia. Sifat ini adalah cerminan dari Ibu Pertiwi atau Prativi. Ibu Pertiwi yang telah melahirkan kita diatas bumi ini, memelihara, menjaganya dan mendaur ulang jasad kita pula.

Berdasarkan berbagai penelitian ilmiah, para ilmuwan kini memahami bahwa kasih sayang seorang Ibu/perempuan berdampak besar bagi perkembangan seorang anak secara menyeluruh (holistik). Seorang anak yang dibesarkan dengan kasih sayang seorang perempuan, cenderung akan menjadi lebih sehat, cerdas dan berpotensi besar untuk mengembangkan kemampuan sosialnya, dan berempati dengan lingkungan sekitarnya serta sesama mahluk hidup lainnya. Sifat mengapresiasi terhadap perbedaan menjadi dasar kehidupannya dan sifat ini yang penting bagi pertumbuhan jiwa anak-anak bangsa. Sebaliknya, seorang anak yang dibesarkan tanpa kasih sayang seorang perempuan akan cenderung menjadi keras dan kaku, dan lebih berpeluang mengalami masalah mental/emosional, dan problem kesehatan serius lainnya.
 
Saat ini, dunia kita telah mulai kehilangan kelembutannya. Kelembutan yang berasal dari kasih sayang perempuan yang menjadi ibu. Banyak anak-anak kita tumbuh besar dalam kerasnya dunia tanpa kasih sayang seorang ibu. Bencana alam akibat dari aksi kekerasan manusia pada alam lingkungan hidup, maupun bencana akibat konflik sesama manusia yang sering terjadi di berbagai belahan dunia dan di Indonesia khususnya telah merenggut banyak korban jiwa dan harta benda. Bencana-bencana ini semestinya menyadarkan kita semua akan hal itu.
 
Dunia ini membutuhkan kasih sayang perempuan. Kita sebagai perempuan harus berperan aktif, dan berjuang bersama untuk menghindari lebih banyak lagi bencana yang dapat terjadi dan menghancurkan suatu tatanan kehidupan manusia akibat kekerasan yang ada dalam diri setiap manusia. Penelitian pun telah membuktikan bahwa kekerasan tidak dapat dilawan dengan aksi kekerasan lainnya, dan hanya dengan kelembutan kasih sayang maka kekerasan dapat dihapuskan. Dan sesungguhnya kekerasan bukanlah sekedar kekerasan fisik semata, tetapi kekerasan dalam bentuk eksploitasi perempuan untuk kepentingan politik, kepentingan kelompok tertentu, untuk menjatuhkan seseorang yang tidak disukai dan sebagainya yang dibaliknya mengandung motif tertentu, justru sangat membahayakan. Sehingga, ketika kita bicara tentang eliminasi kekerasan, maka mesti bicara tentang kekerasan dalam bentuk eksploitasi itu. Sudah menjadi anugerah Tuhan bahwa kaum perempuan dikarunia kelembutan secara kodrati. Ini adalah senjata kaum perempuan yang jauh lebih ampuh dari senjata apapun untuk menghadapi berbagai aksi kekerasan baik di dalam diri maupun di luar diri.
 
Tak dapat dipungkiri juga, bahwa dalam sejarah perjalanan suatu bangsa, revolusi selalu dikawal oleh kasih sayang perempuan. Kasih sayang yang tidak dibatasi oleh sekat-sekat perbedaan agama, keyakinan, ras, suku bangsa, maupun warna kulit. Kaum ibu dianugerahi sifat kelembutan untuk menjaga keseimbangan, baik itu di lingkungan keluarga, negara, maupun dunia. Sejarah telah membuktikan hal itu, di mana jika suatu negara perempuannya teraniaya maka di situ akan muncul periode kekacauan dalam negara tersebut. Bila suatu Negara merendahkan wanitanya dan tidak memberdayakannya, namun justru mengeksport dan menjadikannya sebagai komoditi devisa  maka kekacauan dunia terjadi saat ini juga. Tidak bisa dibayangkan betapa banyak anak tumbuh tanpa kasih seorang ibu dan keluarga yang ditinggalkanya karena harus bekerja jauh diperantauan asing. Baik asing alamnya maupun social masyarakatnya.
 
Perubahan kesadaran masyarakat hanya bisa kita mulai dari peran seorang ibu terhadap kesadaran anak-anaknya. Ibu, peran yang sangat besar dalam membangun dan menciptakan manusia Indonesia sebagai wujud dalam peradaban manusia. Selamat hari Ibu, mari kita wujudkan sifat Ibu sebagai manifestasi keilahian dalam diri kita masing-masing.